Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sikap Wara’  Abu Bakr

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu? Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sangat terkenal karena banyak memiliki keutamaan dan sifat-sifat mulia dalam Islam. Sampai-sampai shahabat ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu memuji beliau dengan mengatakan:

لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان أهل الأرض لرجحت كفة أبي بكر

“Seandainya keimanan Abu Bakar radliallahu ‘anhu ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka sungguh keimanan beliau radliallahu ‘anhu  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”. (HR. Ishaq bin Rahuyah dalam Musnadnya, no. 1266 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, no. 36 dengan sanad yang shahih)

Kisah berikut ini mengambarkan tingginya keutamaan Abu Bakar radliallahu ‘anhu  dan besarnya kehati-hatian beliau dalam masalah halal dan haram:
Dari ‘Aisyah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar radliallahu ‘anhu (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.
Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar radliallahu ‘anhu memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar radliallahu ‘anhu balik bertanya: “Makanan ini (dari mana)?”. Budak itu menceritakan: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang anda makanan ini”. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar segera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”. (HR. Bukhari no. 3629)
Kisah ini menggambarkan tingginya ketakwaan dan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau sangat berhati-hati dalam menjaga anggota badan beliau dari mengkonsunmsi makanan yang tidak halal, dan inilah aplikasi dari sifat wara’ yang sebenarnya. (Lihat bahjatun Nadzirin, 1/649)
Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:
Pertama, keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bukan hanya terletak pada amal perbuatan anggota badan beliau, tapi karena sempurnanya keimanan dan ketakwaan dalam hati beliau. Imam Abu Bakar bin ‘Ayyaasy (seorang ulama generasi tabi’in) mengatakan: “Tidaklah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengungguli kalian dalam kebaikan dengan hanya semata-mata karena banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi karena sesuatu kesempurnaan iman dan takwa yang ada di dalam hati beliau”. (Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qoyim, 1/82)
Kedua, berhati-hati dalam masalah halal dan haram, mencerminkan ketakwaan seorang hamba. Karena dengan sifat ini, kebaikan agama seseorang akan selalu terjaga dengan izin Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar (belum jelas status halal atau haramnya) maka sungguh dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang samar tersebut maka berarti dia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram (dilarang dalam Islam)…”. (HR. Muslim, no 1599)

Ketiga, termasuk bentuk aplikasi sifat wara’ adalah tidak memakan makanan dan menerima pemberian dari seseorang yang diketahui dengan yakin bahwa hartanya bersumber dari penghasilan yang haram, kecuali jika dia punya sumber penghasilan lain yang halal (hartanya bercampur dengan barang haram). (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1/649)
Keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ؛ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya”. (HR Ahmad, 3/321, Daarimi, no. 2776, dan dishahihkan Al-Albani)

Kelima, haramnya dan tercelanya praktek perdukunan dalam segala bentuknya. Serta larangan mendatangi apalagi mempercayai para dukun dan tukang ramal. Karena hal ini termasuk dosa yang sangat besar bahkan bisa membawa kepada kekafiran. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)”. (HR. Muslim, no. 2230)

Dalam hadits lainnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR Ahmad, 2/429 dan Hakim, 1/49, dan dishahihkan Al-Albani)

Keenam, maksud praktek perdukunan dalam kisah ini adalah meramalkan kejadian yang akan datang tanpa adanya bukti-bukti yang membenarkan. Ini termasuk perbuatan yang membawa kepada kekafiran, karena perkara yang gaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Allah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan” (QS an-Naml: 65).

Ketujuh, upah/harga dari pekerjaan yang dilarang dalam agama adalah haram dan tidak boleh dimakan. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil (penjualan) anjing, upah (dari) pelacuran dan upah/hadiah (dari praktek) perdukunan. (HR. Bukhari, no. 2122 dan Muslim, no 1567)

Ditulis oleh Ust. Abdullah Taslim, M.A.
Diposkan kembali oleh Admin
Sumber : Konsultasi Syariah 

Sikap  Wara’   Abu Bakr Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar ash-Shi...

BAGUS NIH BUAT RENUNGAN

4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.

Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.

Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja.

Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari..

Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat..
Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!!
Maka telah tertutuplah pintu taubat..

Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara  berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi..

Bismillahirrahmanirrahim.

😒 Kenapa kita tidur saat Allah memanggil? Tapi kita sanggup menahan kantuk saat menonton film selama 3 jam?

😣 Kenapa kita bosan saat baca al-qur'an? Melainkan kita lebih rela membaca timeline twitter, wall facebook, novel atau buku lain?

😔 Kenapa kita senang sekali mengabaikan pesan dari Allah? Tpi kita sanggup memforward pesan yang aneh-aneh?

😢 Kenapa masjid semakin kecil? Tapi bar dan club? semakin besar?

😖 Kenapa kita lebih sangat senang menyembah ARTIS? Tapi sangat susah untuk menemui ALLAH? Pikirkan itu

😏 Apakah anda akan menforward pesan ini?

😞 Apakah anda akan mengabaikan pesan ini karena takut ditertawakan dengan kawan yang lain?


1. Biarkan didalam whatsapp, line, bbm dsb anda tanpa bermanfaat untuk org lain.

2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda. . Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang menyampaikan 1(satu) ilmu saja dan ada orang yg mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala  😊
-renungkanlah..

Bacalah
KIAMAT menurut Agama Islam di tandai dgn:

          - Kemunculan Imam Mahdi
          - Kemunculan Dajjal
          - Turunnya Nabi Isa (AS)
          - Kemunculan Yakjuj dan Makjuj
          - Terbitnya matahari dari Barat ke Timur
          - Pintu pengampunan akan ditutup
          - Dab'bat al-Ard akan keluar dari tanah & akan menandai muslim yang sebenar2nya
          - Kabut selama 40 Hari akan mematikan semua orang beriman sejati shg mereka tidak perlu mengalami tanda2 kiamat lainnya
          - Sebuah kebakaran besar akan menyebabkan kerusakan
          - Pemusnahan/runtuhnya Kabah
          - Tulisan dalam Al-Quran akan lenyap
          - Sangkakala akan ditiup pertama kalinya membuat semua makhluk hidup merasa bimbang dan ketakutan
          - Tiupan sangkakala yang kedua kalinya akan membuat semua makhluk hidup mati dan yg ketiga yang membuat setiap makhluk hidup bangkit kembali
       
Nabi MUHAMMAD SAW telah bersabda:
          "Barang siapa yg mengingatkan ini kepada orang lain, akan Ku  buatkan tempat di syurga baginya pada hari penghakiman kelak"
       
Kita bisa kirim ribuan bbm mesra, promote, bc yang  terlalu penting tapi bila kirim yang berkaitan dengan ibadah mesti berpikir 2x.
       
Allah berfirman : "jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat denganKu maka Aku berikan, tapi Aku akan menjauhkan kalian dari syurgaKu"
       
Itulah yg dimaksud dajjal yg bermata satu: artinya hanya mmikirkan duniawi drpda akhirat.      
Kerugian meninggalkn solat:

          - Subuh:
          Cahaya wajah akan pudar.
          - Zuhur:
          Berkat pendapatan akan hilang.
          - Asar:
          Kesehatan mulai terganggu.
          - Maghrib:
          Pertolongan anak akan jauh di akhirat nanti.
          - Isya':
          Kedamaian dlm tidur sukar didapatkan.

Sebarkan dgn ikhlas. tiada paksaan dalam agama..
Niatkan ibadah(sebarkan ilmu walau 1 ayat)..
       
Nasihat Kubur:        
       
1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yg gelap, maka terangilah .. aku dengan TAHAJUD
       
2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHIM..
       
3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca 📖 AL-QUR'AN.
       
4). Aku adalah tempatnya binatang2 🐍 yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH,
       
5). Aku yg menyepitmu hingga hancur  bilamana tidak Solat, bebaskan sempitan itu dengan SOLAT
       
6). Aku adalah tempat utk merendammu dg cairan yg sangat amat sakit, 😲 bebaskan rendaman itu dgn PUASA..
       
7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawapanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimah "LAILAHAILALLAH"
       
Kirim pesan ini semampumu dan seikhlasmu kepada sesama Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 org..
Karena, saat kamu membawa Al-Qur'an, setan biasa2 saja.
Saat kamu membukanya, syaitan mulai curiga.
Saat kamu membacanya, ia gelisah.
Saat kamu mmahaminya, ia kejang2.
Saat kamu mengamalkan Al-Qur'an dlm kehidupan shari-hari, ia stroke.
Trus dan trus baca & amalkan agar syaitan stroke dan mati.
Ketika anda ingin menyebarkan .. ini, lagi2 syaitan pun mencegahnya.
       
Syaitan berbisik;
"Sudahlaaaaaah tak usah bersusah payah di SEBARKAN, tak penting , BUANG WAKTU saja, tak mungkin akan di baca "...
       
Sekecil apapun amal ibadah, Allah SWT menghargainya puluhan kali ganda ..
       
Ada 3 Hal dlm hidup yg tidak bisa kembali :
          1. Waktu
          2. Kata-kata
          3. Kesempatan

K: Kiblat
A: Arah
A: aku
B: Bersujud hingga
A: akhir
H: Hayatku

Like & Share guys

BAGUS NIH BUAT RENUNGAN 4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, ha...


Saudaraku, siapa di antara kita yang tidak mengenal musik? Dan di antara orang yang mengenal musik, siapa dari mereka yang menyukainya? Mungkin ada di antara kita yang mengangkat tangan dan ada yang tidak. Sebagian kita ada yang menyukai musik dan ada yang tidak. Karena hal ini disebabkan oleh adanya pro dan kontra akan hukum musik itu sendiri dan juga karena ketidaktahuan kita akan manfaat dan bahaya musik itu sendiri.
Pada kesempatan kali ini, mari kita simak bersama, apa sih sebenarnya hukum musik itu sendiri? Terkhusus lagi, jika musik itu dinisbatkan kepada Islam. Sebelum kita membahas bersama, ada kesepakatan yang harus kita patuhi. Karena kita adalah orang Islam, tentunya kita mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Tuhan kita dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi dan panutan kita. Maka konsekuensi dari itu, kita harus meyakini kebenaran yang datang dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Bukankah begitu, wahai saudaraku? Oke, mari kita simak dan renungkan bersama pembahasan kali ini.

Bagaimana Allah menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an?

Ternyata, banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan akan hal ini. Satu di antaranya adalah:
Firman Allah ‘Azza wa jalla,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Qur’an) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Qur’an, lalu Allah Jalla Jalaaluh menceritakan dalam ayat 6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Qur’an dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik. 1
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu salah satu sahabat senior Nabi berkata ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali.2
Begitu juga dengan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga beliau dijuluki sebagai Turjumanul Qur’an, bahwasanya beliau juga mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian.3
Al-Wahidy berkata bahwasanya ayat ini menjadi dalil bahwa nyanyian itu hukumnya haram. 4
Dan masih banyak lagi, ayat-ayat lainnya yang menjelaskan akan hal ini.

Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkabarkan kepada umatnya tentang musik?

Saudaraku, termasuk mukjizat yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”5
Saudaraku, bukankah apa yang telah dikabarkan oleh beliau itu telah terjadi pada zaman kita saat ini?
Dan juga dalam hadis lain, secara terang-terangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang musik. Beliau pernah bersabda,
إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان
“Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.”6
Kedua hadis di atas telah menjadi bukti untuk kita bahwasanya Allah dan Rasul-Nya telah melarang nyanyian beserta alat musik.
Sebenarnya, masih banyak bukti-bukti lain baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun perkataan ulama yang menunjukkan akan larangan dan celaan Islam terhadap nyanyian dan alat musik. Dan hal ini bisa dirujuk kembali ke kitabnya Ibnul Qayyim yang berjudul Ighatsatul Lahafan atau kitab-kitab ulama lainnya yang membahas tentang hal ini.

Lalu, bagaimana dengan musik Islami?

Setelah kita mengetahui ketiga dalil di atas, mungkin ada yang bertanya di antara kita, lalu bagaimana dengan lagu-lagu yang isinya bertujuan untuk mendakwahkan manusia kepada kebaikan atau nasyid-nasyid Islami yang mengandung ajakan manusia untuk mengingat Allah? Bukankah hal itu mengandung kebaikan?
Maka kita jawab, ia benar. Hal itu mengandung kebaikan, tapi menurut siapa? Jika Allah dan Rasul-Nya menganggap hal itu adalah baik dan menjadi salah satu cara terbaik dalam berdakwah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat adalah orang-orang yang paling pertama kali melakukan hal tersebut. Akan tetapi tidak ada satu pun cerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukannya, bahkan mereka melarang dan mencela hal itu.
Wahai saudaraku, perlu diketahui, bahwasanya nasyid Islami yang banyak kita dengar sekarang ini itu, bukanlah nasyid yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang mereka lakukan ketika mereka melakukan perjalanan jauh ataupun ketika mereka bekerja, akan tetapi nasyid-nasyid saat ini itu merupakan budaya kaum sufi yang mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka menjadikan hal ini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, yang padahal hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka dari mana mereka mendapatkan hal ini?
Maka telah jelas bagi kita, bahwa kaum sufi tersebut telah membuat syariat baru, yaitu membuat suatu bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara melantunkan nasyid yang hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 7

Waktu-waktu yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik

Saudaraku, ternyata Islam tidak melarang kita secara mutlak untuk bernyanyi dan bermain alat musik. Ada waktu-waktu tertentu yang kita diperbolehkan untuk melakukan hal itu. Kapan itu?
1. Ketika Hari raya
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh istri beliau, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan kecil dari wanita Anshar, sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan oleh kaum Anshar pada masa perang Bu’ats.” Lalu aku berkata, “Keduanya bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata, “Apakah seruling setan ada di dalam rumah Rasulullah?” Hal itu terjadi ketika Hari Raya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini adalah hari raya kita.” 8
2. Ketika pernikahan
Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menceritakan tentang anak kecil yang menabuh rebana dan bernyanyi dalam acara pernikahannya Rubayyi’ bintu Mu’awwidz yang pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari adanya hal tersebut.
Dan juga berdasarkan dari sebuah hadis, bahwasanya beliau pernah bersabda, “Pembeda antara yang halal dan yang haram adalah menabuh rebana dan suara dalam pernikahan.”9
Jadi, telah jelas bukan, bahwa keadaan yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik hanyalah ketika hari raya dan pernikahan. Dan alat musik yang diperbolehkan hanyalah duff (rebana) yang hanya dimainkan oleh wanita.

Beberapa karakter khas yang ada dalam nyanyian dan musik

  1. Dapat melalaikan hati
  2. Menghalangi hati untuk memahami Al-Qur’an dan merenungkannnya serta mengamalkan kandungannya
  3. Al-Qur’an dan nyanyian tidak akan bertemu secara bersamaan dalam hati selamanya. Karena Al Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu dan memerintahkan untuk menjaga kesucian hati. Sedangkan nyanyian memerintahkan sebaliknya, bahkan menghiasinya dan merangsang jiwa manusia untuk mengikuti hawa nafsu.
  4. Nyanyian dan minuman keras ibarat saudara kembar dalam merangsang jiwa untuk melakukan keburukan. Saling mendukung dan menopang satu sama lain.
  5. Nyanyian itu pencabut kewibawaan seseorang
  6. Nyanyian dapat menyerap masuk ke dalam pusat khayalan, lalu membangkitkan nafsu dan syahwat yang terpendam di dalamnya.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.10
Karakter-karakter khas yang terdapat pada musik tersebut mencakup semua jenis musik, baik itu musik rock, pop, dangdut, maupun musik Islami. Karena hal ini memang telah terbukti di kalangan para pecinta musik. Dan memang, nyanyian dan musik ini sangat besar pengaruhnya bagi para pelaku dan pendengarnya dari segala sisi, baik dari akidahnya, akhlaknya, maupun dari akal pikirannya yang telah menunjukkan adanya kemerosotan yang sangat signifikan jika dibanding dengan generasi kakek nenek kita, yang mana dulu masih jarang ditemukan adanya nyanyian ataupun musik.

Renungan

Wahai Saudara, kami rasa ketiga dalil dari Al-Qur’an dan hadis di atas dan penjelasan setelahnya, sudah cukup membuktikan kepada kita bahwa Islam melarang adanya nyanyian dan alat-alat musik. Dan juga, sudah cukup melegakan hati saudaraku yang memang sebelumnya kontra dengan musik. Dan menjadikan terang dan jelas bagi saudaraku yang sebelumnya pro dengan musik. Dan telah terjawab sudah, pertanyaan pada judul pembahasan kita saat ini. Bukankah demikian?
Namun memang sudah seharusnya bagi kita seorang muslim, untuk menerima dengan tunduk apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, tanpa ada rasa berat dan penolakan sedikit pun dari dalam hati kita. Karena jika hal itu terjadi, maka itu adalah salah satu tanda adanya kesombongan yang ada dalam hati kita. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.” Lalu ada seorang laki-laki bertanya pada beliau, “Sesungguhnya manusia itu menyukai baju yang indah dan sandal yang bagus.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” 11
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa melakukan segala apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala apa yang Dia larang. Sesungguhnya Allah Ta’ala-lah yang Maha Pemberi taufik dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanyalah milik Allah semata. Wallahu waliyyut taufiq.


Sumber ; Benarkah Musik Islami Itu Haram?

Saudaraku, siapa di antara kita yang tidak mengenal musik? Dan di antara orang yang mengenal musik, siapa dari mereka yang menyukainya?...


Membedakan mana dosa yang membuat pelakunya kafir (keluar dari Islam) dan mana yang sebatas dosa besar, amatlah penting. Karena keteledoran dalam membedakan dua hal ini, membuat sebagian orang tidak objektif dan serampangan dalam menvonis kafir kaum Muslimin terutama para pemimpin-pemimpin Muslim.
Setidaknya ada tiga poin yang dijadikan alasan kaum khawarij atau yang mengadopsi pemikirannya di zaman ini, dalam mengkafirkan kaum Muslimin dan para penguasa Muslim:

Pertama: Maksiat yang dianggap kekafiran

Seperti memakan riba, memberi izin kepada bank-bank ribawi, membuka lokalisasi. Padahal yang semacam ini bukanlah termasuk kekafiran. Akan tetapi merupakan dosa besar; yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kecuali bila ada i’tikad kehalalan dosa-dosa tersebut. Maka ini sudah menjadi kesepakatan para ulama akan kekafirannya.
Dan sebatas melakukan dosa, bukan berarti pelakunya kemudian serta merta menganggap halal dosa yang dia lakukan, sehingga boleh dihukumi kafir.
Dalinya hadis Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, mengenai seorang pemabuk di zaman Nabi yang berkali-kali mendapat hukuman cambuk dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Karena seringnya mendapat hukuman, salah seorang sahabat sampai mendoakan laknat untuknya. Lantas Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ، مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahuinya melainkan ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhaari no. 6780).
Dia meminum khamr, namun Rasulullah tidak serta merta menghukuminya bahwa dia telah menghalalkan khamr. Buktinya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Dia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya“.
Menghukumi bahwa dia telah menghalalkan dosa, ini membutuhkan bukti yang kuat. Atau setidaknya ada ketegasan ungkapan dari pelaku dosa. Tanpa ada keraguan dan syubhat yang menghalanginya dari vonis kafir.
Andai setiap pelaku dosa, serta merta dihukumi menghalalkan perbuatan dosa yang ia lakukan, tentu Nabi tidak akan bersabda demikian tentang pemabuk itu. Karena mengahalalkan dosa adalah sebab kekafiran yang mengeluarkan seorang dari islam, sebagaimana telah disepakati oleh para ulama.
Di samping itu, bila setiap orang yang melakukan maksiat otomatis tervonis menghalalkan maksiat yang dia lakukan, dengan kata lain, setiap perbuatan maksiat melazimkan pelakunya menghalalkan maksiat yang dia lakukan, tentu semua pelaku maksiat adalah kafir. Padahal banyak diantara mereka yang melakukan maksiat bukan karena meyakini kehalakan dosa yang dia lakukan. Namun karena dorongan nafsu atau syubhat yang ada dalam dirinya, dengan tetap meyakini akan keharaman dosa yang ia lakukan.
Demikian pula dengan pemimpin muslim yang mengizinkan berdirinya lokalisasi, atau bank-bank riba. Tidak serta merta dihukumi bahwa dia telah menghalalkan dosa-dosa tersebut. Sehingga berhak dihukumi kafir.
Bila kita sejenak merenungi keyakinan semacam ini, yaitu keyakinan bahwa setiap perbuatan maksiat melazimkan pelakunya menghalalkan maksiat yang dia lakukan. Maka akan kita dapati bahwa sejatinya inilah hakikat daripada akidah khawarij, yang mana mereka mengkafirkan pelaku dosa besar.

Kedua: Kufur ashgor (kufur kecil) yang dianggap kufur akbar (kufur besar)

Seperti berhukum dengan selain hukum Allah, namun tanpa menghalalkan hukum tersebut. Dengan keyakinan bahwa hukum Allahlah yang paling baik. Seperti ini banyak kita dapati di negeri kaum muslimin hari ini.
Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala,
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
Yang mereka pahami dari makna “kafir” dalam ayat ini adalah kafir akbar; yang mengeluarkan pelakunya dari islam. Padahal makna “kafir” dalam ayat bukan demikian. Namun maknanya adalah kufur kecil; yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, mengenai makna ayat ini. Beliau menafsirkan,
كفر دون كفر
“Yaitu kafir namun tidak sampai mengeluarkan dari Islam (kufur kecil) “
Berbeda bila diiringi i’tikad kehalalan berhukum kepada selain hukum Allah dan menganggap bahwa hukum tersebut lebih baik daripada hukum yang Allah turunkan, maka ini tidak perlu dibicarakan lagi. Karena para ulama telah sepakat akan kekafirannya.
Namun jangan disalah pahami, sehingga setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka serta merta berhak diprasangkai atau divonis bahwa ia telah menghalalkan hukum tersebut. Atau meyakini kehalalan berhukum denagn selain hukum Allah. Penjelasan berkaitan dengan masalah ini, sama dengan yang telah dijelaskan pada poin pertama di atas.
Karena bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan penguasa tersebut berhukum dengan selain hukum Allah. Sehingga ia terhalangi daripada kekafiran. Seperti karena lingkungan yang memaksanya (orang-orang di sekeliling), atau karena dorongan syahwat dan nafsunya.
Menjatuhkan vonis kafir kepada penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, harus dilandasi bukti yang jelas, kuat, akurat (bukan hanya katanya dan katanya, atau sebatas berita yang ada kemungkinan manipulasi dst) yang didukung dalilAl-Qur’an maupun Hadis. Seperti dijelaskan dalam hadis Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu. Beliau mengatakan,
دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ ، قَالَ : إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggil kami, lalu kami membaiat (mengucapkan sumpah setia) beliau. Dan diantara baiatnya adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat kepada penguasa. Baik ketika kami semangat ataupun tidak suka. Ketika lapamg ataupun dalam kesusahan. Ataupun ketika kami diperlakukan secara sewenang-wenang. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan (mengkudeta) dari ahlinya. Beliau kemudian berkata, “Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas telah kalian dapat buktinya dari Allah Ta’ala” (Muttafaq ‘alaih)
Bila tidak ada bukti yang kuat dan akurat, maka kembali pada hukum asal seorang muslim. Yaitu terbebaskan dari segala tuduhan.

Ketiga: Muamalah duniawi dengan orang kafir, yang dianggap oleh mereka sebagai kufur akbar

Seperti kerja sama dalam perekonomian, perdagangan, militer (selama untuk kemaslahatan kaum muslimin) dan lain sebagainya.
Allah befirman,
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Katakan: “siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) untuk orang-orang yang beriman di kehidupan dunia ini, dan khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui” (QS. Al-A’raf: 32).
Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya dahulu, pernah membeli baju besi, pedang dan pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dari orang-orang yahudi. Jadi dahulu di Madinah ada pasar milik kaum muslimin dan pasar milik kaum yahudi. Mereka saling berdampingan dalam transaksi jual beli di pasar-pasar tersebut. Kaum muslimin di kalangan sahabat, mereka membeli kebutuhan sehari-hari mereka di pasar yahudi. Begitu pula sebaliknya, orang yahudi membeli kebutuhan sehari-hari mereka di pasar kaum muslimin. Diantara pasar milik kaum yahudi yang paling masyhur di masa itu adalah pasar Bani Qunaiqa’. Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari muamalah jual beli yang terjadi antara kaum muslimin dengan orang yahudi. (Lihat: Siroh Ibnu Hisyam jilid 2, hal. 48)
Usman bin Afwan radhiyallahu’anhu. Beliau membeli sebuah sumur dari salah seorang yahudi. Kemudian sumur tersebut disedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Sumur tersebut dikenal dengan sumur ar-ruumau (bi’ru ar-ruumah).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, diantara program yang pertama beliau lakukan adalah membuat perjanjian antara kaum muslimin dan kaum yahudi yang berisi kesepakatan-kesepakatan antara kedua kedua belah pihak, yang dituliskan dalam sebuah prasasti yang tercatat dalam sejarah. (lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz III, hal. 225), memuat perjanjian aliansi militer serta musyawarah rutin dalam masalah pemerintahan. Dan bila menemui perselisihan, mereka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Begitu pula Nabi shallallahu’alaihi wasallam meninggal, sedang baju besi beliau tergadaikan di tangan orang yahudi (Lihat shahih Bukhari, Kitab al-Jihad, hadis no. 2759). Dan tidak menutup kemungkinan baju tersebut, dipakai oleh orang yahudi untuk berperang. Apakah kemudian kita katakan bahwa Nabi dan para sahabatnya loyal kepada orang kafir?! atau dikendalikan oleh orang kafir?! Tentu saja tidak kann?!
Fa’tabiruu yaa ulil abshoor! “Ambilah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal.”
Demikian yang bisa penulis sampaikan. Wallahu a’lam bis showab.
______
Ditulis di: Asrama Mahasiswa Unit 8, Komplek Islamic University of Madinah.
12 Rabi’us Tsani 1436H
Penulis: Ahmad Anshori


Membedakan mana dosa yang membuat pelakunya kafir (keluar dari Islam) dan mana yang sebatas dosa besar, amatlah penting. Karena ket...



Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لايؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia lebih mencintaiku daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR. Al-Bukhari, no 15 dan Muslim, no. 44).
Mendengar sabda Nabi di atas, para sahabat mencurahkan kecintaan yang besar kepada sang Rasul shallallahu ‘alaih wasallam, melebihi cinta mereka kepada keluarganya. Mereka lebih mementingkan kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, daripada selainnya. Inilah prinsip hidup para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka.
Mereka begitu faham pengaruh cinta dalam kehidupan. Cinta akan memicu seorang, untuk selalu patuh dan tunduk kepada orang yang dicintai, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala telah menekankan hal ini. Yang menunjukkan pentingnya kepatuhan dan tunduk terhadap perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Allah Ta’ala mengaitkan ketaatan kepada-Nya, dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam firman-Nya,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang menaati rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (An Nisa: 80)
Artinya, barangsiapa yang bermaksiat kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, itu artinya dia telah bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Para sahabat begitu sadar, bahwa cinta ibarat tali yang kuat, yang mengeratkan ikatan hati, antara mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kecintaan yang tulus inilah, mereka hendak menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah kemenangan yang besar.” (An Nisa: 13)
Memang, hubungan antara cinta, taat, tunduk dan patuh amatlah erat. Kata-kata ini tidak bisa dipisahkan. Semakin tinggi frekuensi cinta, semakin tinggi pula tingkat kepatuhan dan ketundukannya kepada yang ia cintai. Sebaliknya, saat frekuensi cinta berkurang, maka semakin rendah tingkat kepatuhan dan ketundukan terhadap perintah maupun larangan beliau.

Tanda Cinta

Cinta kepada sesutu apapun, mesti ada bukti. Ketika Anda mencintai rumah, pasti Anda akan senantiasa menjaga, merawat dan membersihkannya. Dan Anda akan marah bila ada orang yang mengotorinya. Saat Anda mencintai anak Anda, maka Anda akan mendidik, membimbing dan mengayominya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga memiliki tanda-tanda. Sebagai bukti Ketulusan dan kejujuran cintanya kepada beliau; bukan sekedar dakwaan atau bualan belaka.
Di antara bukti kejujuran cinta tersebut tersebut adalah, berpegang teguh dengan sunnahnya (jejak kehidupannya), serta memuliakan para pengikut sunnahnya (penghulunya adalah sahabat-sahabat beliau), memperbanyak shalawat untuknya, rindu berjumpa dengannya, cinta kepada orang-orang yang dicintainya dan benci kepada orang-orang yang dibencinya. (Makanat as-Sunnah an-Nabawiyah, hal 41).

Cinta yang Proposional

Ketahuilah, sesungguhnya cinta para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam adalah cinta yang proposional. Maksudnya adalah, pertengahan antara cintanya orang yang melampaui batas dan cintanya orang yang menyepelekan atau teledor dalam hal kecintaan kepada Nabi. Berikut Ini kami paparkan tiga golongan manusia dalam hal kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Pertama, orang yang melampaui batas dalam hal kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti orang-orang yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan kecintaannya kepada Nabi. Dampaknya adalah ekspresi cinta yang melampaui batas syar’i. Akhirnya mereka membuat ibadah-ibadah baru yang tak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti perayaan maulid Nabi, dengan dalih bahwa ini adalah ekspresi kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ini yang pertama.
Kedua, mereka yang lebih mendahulukan kecintaan kepada selain beliau, daripada kecintaan kepada beliau. Akibatnya, akan menimbulkan dampak negatif yang mereka alami dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Contohnya adalah, orang-orang yang mengaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun saat ada perkataan tokoh atau kiyai mereka, yang menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka lebih mendahulukan perkataan kiyainya tersebut.
Ketiga, merekalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Setiap muslim yang menginginkan kejujuran dalam cintanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaklah ia mengikuti jejak mereka dalam mewujudkan cinta hakiki tersebut. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak melampaui batas dalam kecintaan mereka, tidak pula seperti orang-orang yang teledor dan menyepelekan kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat Makanat as-Sunnah an-Nabawiyah, hal 38).

Potret Cinta Sahabat Kepada Nabi

Pembaca yang budiman, mari sejenak melihat kembali perjalanan hidup generasi terbaik umat ini. Yaitu para sahabat radhiyallahu anhum. Untuk memetik pelajaran-pelajaran berharga dari keindahan perilaku mereka, keluhuran adab dan akhlak mereka.
Pernakah terbayang di benak Anda, bagaimana gambaran cinta dan pengagungan sahabat-sahabat kepada beliau?
Meski kata-kata tak kuasa untuk melukiskan hakikat cinta mereka yang begitu jujur dan agung. Namun, tak mengapa sedikit membaca kisah-kisah menakjudkan, dari gambaran cinta mereka tersebut:
  1. Abu Sufyan radhiyallahu anhu menuturkan, tentang kenyataan yang beliau saksikan, antara persahabatan rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabat, “Aku belum melihat seorang pun yang mencintai orang lain, seperti cintanya sahabat-sahabat Muhammad -shallallahu’alaihiwasallam- kepadanya.” (Abu Nu’aim, Ma’rifat ah-Shahabah, jilid 3/1183-1184 ).
  2. Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ditanya, “Bagaimana cinta kalian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Beliau menjawab,”Demi Allah, beliau lebih kami cintai dari harta, anak, ayah, dan ibu kami. Bahkan lebih (kami cintai) dari air segar di waktu dahaga.” (Al-Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa, jilid 2/52).
  3. Kisah Urwah bin Mas’ud yang masyhur. Ketika kaum Quraisy mengutusnya dalam rangka melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin, di Hudaibiyah. Saat perjumpaannya dengan Nabi dan kaum muslimin, ia mendapati sebuah sikap yang menakjudkan hatinya, dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sepulangnya Urwah ke Makkah, ia pun berkata di hadapan kaum Quraisy, “Wahai kaum Quraisy.. Demi Allah, aku telah diutus kepada para raja sebagai delegasi kalian. (Aku diutus) kepada Kishar (raja negeri Roma), Kisra (raja negeri persia), begitu pula Najasyi (raja negeri Habasyah). Namun demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh pengikutnya, seperti pengagungan yang dilakukan para sahabat Muhammad kepadanya.Demi Allah, jika ia (Muhammad) berdahak, pasti dahak itu akan jatuh di tangan salah seorang mereka. Lalu mereka usapkan ke wajah dan kulit mereka. Jika mereka mendapat perintah darinya, maka mereka akan segera melaksanakan perintah tersebut. Jika ia selesai berwudu, hampir-hampir mereka bersengketa karena saling berebut sisa air wudhunya. Jika ia berbicara, sahabat-sahabatnya merendahkan suara di hadapannya. Tak ada seorang pun yang memandangnya dengan pandangan yang tajam. Hal ini karena mereka begitu menghormatinya.” (Al-Bukhari, no 2731).
  4. Karena dorongan cinta yang tulus, kepada Nabi shallallahu alaih wasallam, sampai-sampai seorang sahabat yang bernama Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu anhu, rela menjadi pelayan beliau, demi bisa menjadi pendamping beliau di surga. Rabiah bercerita, “Suatu malam aku menginap di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akupun menyediakan air wudhu untuknya serta memenuhi kebutuhan beliau. Lalu beliau bertanya, “Memohonlah..”. “Aku ingin menemanimu di surga.” pintaku. Beliau menjawab,”Tak adakah yang selain itu?”. “Tidak,” Jawabku. Beliau lantas bersabda, “Perbanyaklah sujud, agar dapat membantuku mewujudkan keinginanmu.” (Muslim, no 489)
  5. Karena ketulusan cinta, para sahabat selalu ingin meniru tingkahlaku beliau.Dikisahkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampernah memiliki sebuah cincin yang terbuat dari emas. Melihat beliau memakai cincin emas, maka para sahabatpun ikut mengenakan cincin emas. Kemudian ketika beliau membuang cincin itu (karena adanya larangan memakai cincin emas bagi laki-laki), seraya bersabda, “Aku tak akan memakai cincin emas lagi untuk selamanya.” maka merekapun langsung membuang cincin-cincin tersebut. (Al-Bukhari, no 5866).
Demikianlah, kepatuhan yang luar biasa. Pengagungan terhadap sunnah yang tak ada bandingnya. Serta kerinduan yang selalu hadir dalam hati suci mereka kepada kekasih yang paling dicintai. Ini tidak lain adalah buah daripada cinta yang jujur dan tulus kepada Sang Rasul.
Semoga Allah meridai seluruh sahabat dan menyediakan kehidupan kekal abadi di surga-Nya bersama kekasih Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wasallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam.
***
Penulis: Abu Huraerah Al Faluwy


Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, لايؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين “ Tidaklah sempurna iman sa...



Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, 
Mungkin Anda pernah mendapati fenomena ini
Banyak orang yang ketika mendengar pejabat jujur tersebut tersandung kasus selingkuh (baca: zina), merasa kaget, lho ternyata! Banyak orang yang ketika melihat guru ngaji memperkosa anak didiknya, terkejut dan naik pitam, keterlaluan! Banyak orang yang ketika mendengar berita pembunuhan sadis, mencincang korbannya, memekik keras sadis! Jika ditinjau dari sisi bahwa hal itu adalah gambaran dari kebencian terhadap sebuah kemaksiatan, memang ini adalah sikap yang benar dan sebuah tuntutan keimanan.
Namun, seberapa banyak kah di antara manusia yang menampakkan kebencian yang sangat terhadap sebuah kemaksiatan yang nampaknya hanya sebatas tidak beradabnya lisan, tidak etis, atau melanggar tatakrama ucapan, padahal hakikatnya merupakan bentuk dosa yang secara kelas bukan hanya termasuk kedalam golongan dosa besar, namun juga termasuk ke dalam kesyirikan kecil?
Seberapa banyak orang yang merasa demikian takutnya untuk mengatakan Ini semua atas kehendak Allah dan kehendak Anda atau Jika bukan karena Allah dan Anda,tentulah kami tadi tertabrak mobil atau saya bersumpah demi negriku atau demi cintaku padamu? Berapakah jumlah orang yang merasa demikian keterlaluannya terhadap pelaku dosa-dosa tersebut di atas? Berapa banyakkah orang yang merasa demikian keji dirinya, ketika mengharapkan pujian manusia dalam melakukan suatu ibadah? Padahal, semua contoh di atas adalah dosa-dosa yang merupakan kategori syirik kecil.

Penjelasan Mengenai Syirik Kecil

Telah dinukilkan dari sekelompok dari Salafus Shalih bahwa mereka menyatakan sesungguhnya syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar, mereka berdalil dengan
  1. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ ، إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
    “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Mereka (para Sahabat) bertanya: Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Riya`.’ Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘pada hari dibalas para hamba sesuai dengan amal mereka pergilah kepada orang-orang yang kalian memamerkan amalan kalian kepada mereka sewaktu di dunia, lalu lihatlah apakah kalian bisa mendapatkan pahala dari mereka’” (HR. Imam Ahmad (27742), dishahihkan Al-Albani).
  2. Mereka berhujjah dengan ucapan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu
    ( لأن أحلف بالله كاذبًا أحب إلي من أحلف بغيره وأنا صادق ) .
    “Sungguh saya bersumpah dengan menyebut nama Allah namun dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan menyebut nama selain Allah meskipun saya jujur”. (Dikeluarkan oleh Al-Mundziri dalam At-Tarhib wat Targhib: 4/58, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).
Sisi alasannya
  1. Bahwa bersumpah dengan menyebut nama Allah namun dusta itu adalah dosa besar, sedangkan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah meskipun jujur itu syirik kecil.
    Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menilai bersumpah dengan menyebut nama Allah namun dusta itu masih lebih mending daripada bersumpah dengan menyebut nama selain Allah meskipun jujur, hal ini menunjukkan bahwa syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar.
  2. Bersumpah dengan menyebut nama Allah itu adalah tauhid, sedangkan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah itu adalah syirik. Adapun kejujuran dalam bersumpah dengan menyebut nama selain Allah itu tidaklah sebanding dengan kebaikan tauhid. Demikian pula keburukan dusta itu lebih mending daripada keburukan syirik.
Catatan:
Bukanlah maksud Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyepelekan dosa besar, namun beliau hendak menjelaskan tingkat kebesaran dosa syirik kecil.

Syirik Kecil Lebih Besar Dosanya dari Dosa Besar

Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun syirik kecil, maka walaupun termasuk ke dalam kelompok dosa besar secara global, namun ditinjau dari sisi jenisnya -dan bukan ditinjau dari masing-masing dosa syirik kecil- lebih parah dari jenis perbuatan dosa-dosa besar tanpa diiringi keyakinan (yang salah)”.
Dalam perkataannya selanjutnya -setelah beliau menyebutkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu di atas- mengatakan,
“Terkadang ucapan seperti ini (ucapan Ibnu Mas’ud-pent) dimaksudkan untuk menunjukkan lebih beratnya dosa syirik kecil khusus yang satu ini -yaitu bersumpah dengan menyebut nama selain Allah- dibandingkan dengan dosa khusus yang disebutkan bersamanya, yaitu bersumpah dengan menyebut nama Allah namun dusta, jadi bukan berarti hal itu menunjukkan setiap bentuk dosa syirik kecil pasti lebih buruk dari setiap bentuk dosa besar. Namun yang tepat, sebagaimana yang telah kami katakan bahwa hal ini ditinjau dari sisi keumuman dan jenis, bukanlah ditinjau dari sisi satu persatu bentuk dosa. Karena diantara dosa-dosa besar yang memang sangat buruk, ada yang lebih parah dari sebagian dosa-dosa syirik kecil”.
Syaikh Abdur Rahman Al-Baraak hafizhahullah ketika ditanya apakah syirik kecil lebih besar (dosanya) daripada dosa besar dan apakah ini berlaku secara mutlak? Maka di antara jawaban beliau adalah, “Juga demikian, yang nampak (dipandanganku) tentang ucapan Salafus Sholeh bahwa syirik kecil lebih besar dosanya dari pada dosa besar, maksudnya adalah dosa yang sejenis, seperti contohnya: bersumpah dengan menyebut nama selain Allah (meskipun jujur) lebih parah daripada bersumpah dengan menyebut nama Allah namun dusta, sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud.
Jadi, jenis dosa syirik lebih parah dari jenis dosa besar, dan hal itu bukanlah berarti setiap bentuk dosa syirik kecil lebih parah daripada setiap bentuk dosa besar, karena diantara dosa-dosa besar ada yang diperingatkan keras dan diancam dengan ancaman yang keras, yang mana peringatan dan ancaman sekeras itu tidaklah didapatkan pada sebagian bentuk syirik kecil”. Wallahu a’lam
(Diolah dari Islamqa.info/ar/188050).
—
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.Or.Id


Sumber : Muslim.or.id /  Benarkah Dosa Syirik Kecil Lebih Besar Dari Dosa-Dosa Besar?


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,   Mungkin Anda pernah mendapati fenomena ini Banyak o...